Detail Cantuman
Advanced Search
Lap. KTI
Gambaran Interaksi Obat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah pada Pasien Geriatri di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit St. Carolus Periode Februari sampai April 2019
ABSTRAK
Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan salah satu penyakit yang berkaitan dengan peningkatan usia. Penyakit ini merupakan penyebab kematian nomor satu secara global. Dimana pasien yang mengalami peningkatan usia 60 tahun ke atas disebut pasien geriatri, yaitu pasien lanjut usia dengan multi penyakit dan atau gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penyakit jantung dan pembuluh darah ini sering kali ditangani dengan terapi obat yang peresepannya polifarmasi sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat. Interaksi obat merupakan keadaan yang ditimbulkan dari pemberian lebih dari satu obat dalam waktu bersamaan dimana efek masing-masing obat dapat saling mengganggu atau keduanya saling menguntungkan. Interaksi obat dapat disebabkan oleh mekanisme farmakokinetik atau mekanisme farmakodinamik. Mekanisme farmakokinetik merupakan proses pergerakan obat yang mencakup nasib dan perjalanan obat di dalam tubuh yang terdiri dari empat fase yaitu fase absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi, sedangkan mekanisme farmakodinamik merupakan setiap proses yang dilakukan obat terhadap tubuh yang meliputi mekanisme kerja obat, efek terapeutis, efek yang tidak diinginkan, efek toksis dan lain-lain yang biasanya terjadi jika efek farmakologi dua obat bersifat aditif atau berlawanan, sinergisme, dan antagonisme. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non-eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif yang menggunakan resep-resep pasien geriatri yang dirawat inap di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, pada periode Februari sampai April 2019. Adanya interaksi obat dianalisis dengan menggunakan situs Drugs.com dan aplikasi Stockely drug interaction. Dari dua unit rawat inap yang dipilih secara random sampling, diperoleh populasi sebanyak 120 pasien, yang kemudian didapat 30 sampel yang termasuk ke dalam kriteria inklusi, dan sebagai hasil akhir diperoleh data jumlah interaksi obat adalah 36 kejadian, 29 kejadian interaksi farmakokinetik (81%) dan 7 kejadian interaksi farmakodinamik (19%). Untuk meminimalisir terjadinya interaksi obat peran tenaga kefarmasian khususnya apoteker klinis sangat diperlukan dan peran Pendamping Minum Obat (PMO) perlu ditingkatkan melalui konseling, antara lain mengenai jeda waktu atau rute pemberian obat.
Ketersediaan
| KTI-214-2019 | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
KTI-214-2019
|
| Penerbit | : ., 2019 |
| Deskripsi Fisik |
78 Hal
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
3422116167
|
| Klasifikasi |
KTI-214-2019
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






